Perubahan pada BAMb
Ah, Bang Iriyadi, ternyata jeli juga melihat perubahan perilaku seorang teman. Sebenarnya yang pertama kali melihat perubahan itu ‘teman dekat’ saya juga, yaitu ibunya Sekar. Komentarnya tentang perubahan itu diutarakan pada saat makan siang di kantin surau ketika ada pelatihan Anshorman. Dengan tatapan mata yang penuh kekaguman dan terus memperhatikan saya yang sedang asyik makan, ia berkomentar ‘telah menyaksikan saya yang berbeda – tidak seperti yang ia kenal selama ini’.
Ya, mungkin ia agak ’shock’ melihat saya yang memimpin menyanyi di depan kelas untuk ice breaking, padahal di rumah ia tak pernah mendengar saya menyanyi — bahkan di kamar mandi sekali pun.
Saya pun mengakui, selama mengikuti kegiatan fasilitator banyak proses pembelajaran yang sadar atau tidak, membawa perubahan perilaku yang lebih baik ; percaya diri, pengendalian emosi, berlatih berbicara di depan publik, menyanyi, nglawak dan lain sebagainya. Perubahan adalah sebuah keniscayaan. dan Bang Iriyadi juga melihat perubahan pada diri saya, sebagaimana dituliskan di bawah ini :
Guru Berjuta Ayam

Buku tentang bagaimana beternak yang baik dan benar, sudah banyak ditulis oleh staf pengajar/dosen fakultas peternakan dan dokter hewan. Atau ditulis praktisi pabrikan/perusahaan peternakan. Namun kali ini, penulis yang wartawan peternakan mewawancarai seorang peternakyang sukses, managemen-nya terkenal bagus di kalangan perusahaan sapronak maupun peternak yang lain. Maka. inilah buku cara beternak yang benar-benar berangkat dari pengalaman seorang peternakprofesional. Boleh jadi buku ini merupakan perpaduan antara profil seorang peternak dan managemen beternak yang baik.
Pembaca buku ini sangat beruntung karena sang narasumber utama adalah peternak yang juga berprofesi sebagai guru. Naluri berbagi ilmu merasuk dalam pada buku ini, penuh kata-kata bijak dan filosofis, data dan informasi hampir tak ada yang ditutupi. Ini beda dengan karakter peternak atau pengusaha pada umumnya yang menutup rapat ‘rahasia perusahaan’. Bahkan begitu terbukanya, seperti bagaimana formula menghitung insentif karyawan, ditunjukkan, sampai-sampai pihak penerbit ‘ngeri’ dan minta pernyataan tertulis dari pihak narasumber.
Buku yang semula berjudul : ‘Guru Berjuta Ayam’ ini memang mencerminkan kesuksesan dari narasumber-nya. Ayam yang dipelihara semula hanya 500 ekor kini berkembang hingga mendekati 3 juta ekor. Rumah besar, mobil mewah, jelas jauh dari penghasilan seorang guru. Tapi ia tetap menjalani profesi guru dengan baik, bahkan meraih predikat teladan dan diangkat menjadi kepala sekolah sekolah menengah atas (SMA) di Jakarta. Maka, buku ini menarik untuk siapapun yang ingin beternak, dan bagi peternak, inilah rujukan manajemen beternak. Selamat membaca!

