PADEPOKAN
Rasanya sudah banyak kritik, evaluasi bahkan keluhan para orang tua terhadap dunia pendidikan yang ditulis maupun ditayangkan pada media massa. Setiap ganti Menteri (Pendidikan) ganti kurikulum adalah hal klasik yang melekat dalam benak masyarakat kita : Ganti metode ujian akhir atau kelulusan, ganti buku, dan sederet gonta-ganti yang lain, yang tidak hanya membingungkan anak didik tapi juga orang tua murid.
Sebagai orang tua yang mempunyai anak-anak yang sedang menjalani pendidikan dasar, saya sendiri prihatin melihat mereka setiap hari terseok-seok membawa buku di dalam tas punggungnya, yang masya Allah, sangat berat! Saya tanya, satu pelajaran ada berapa buku. Dijawabnya ada 4-5 buku. Matematika saja ada 5 buku. Bayangkan kalau sehari ada 3 – 4 mata pelajaran. Lalu, apakah setiap ada pelajaran (Matematika) semua buku harus dibawa? Ya, katanya, karena si anak tidak tahu gurunya nanti mengajak belajar dengan memakai buku yang mana?
Ah, kalau saja sang guru mau lebih peduli dan penuh perhatian kepada si anak, barangkali keluhan massal seperti itu tidak perlu terjadi. Ya, kedekatan guru dan murid inilah yang hilang dari dunia pendidikan kita. Guru hanya sebagai pengajar, bukan pendidik, guru tidak lagi bisa digugu (dipercaya) dan ditiru (diteladani). Secara umum masyarakat kita sekarang kehilangan panutan (teladan), dimana-mana tak hanya di pemerintahan, anak-anak didik di sekolah kehilangan panutan, di rumah lebih banyak tinggal sama pembantu. Kasihan!
Keluhan semacam itu tampaknya bukan main-main, buktinya kini muncul sistem pendidikan alternatif yakni ’home schooling’. Saya tidak ingin mengomentari sistem pendidikan itu, tapi saya ingin mengingatkan bahwa budaya kita pernah punya sistem pendidikan yang baik yang dikenal dengan padepokan.
Padepokan selalu dibangun di tengah-tengah masyarakat oleh seorang guru, bahkan pada umumnya di daerah minus. Dalam masa perintisan, sang guru mendidik anak-anak desa setempat dan bersama-sama membangun perekonomian masyarakat, misalnya dengan mengenalkan teknologi pertanian baru di zamannya.
Kalau sudah cukup lama berdiri, biasanya murid-muridnya datang dari luar desa dan murid senior membantu menjadi ’asisten’ sang guru. Hidup dan belajar bersama antara guru dan murid di tengah-tengah masyarakat, inilah inti sistem pendidikan padepokan
Jadi relevansinya dengan dunia pendidikan kita saat ini adalah kedekatan antara guru-murid ; keteladanannya, laku moral, dan pengabdian pada masyarakat. Tentang pelajaran moral, ’teorinya’ biasanya dibuat dalam sebuah tembang agar mudah diingat, lalu perilakunya diteladankan oleh guru atau orang tua sebagai cermin bagi anak-anak dalam bersikap.
Kemudian ukuran prestasi bagi anak bukanlah ranking teratas di kelas, juara menghafal atau berhitung, tapi banyak-banyak menanam kabajikan — nandur kebecikan, kata orang Jawa. Dalam bahasa Jawa Kuna juga ada ungkapan : syapa kari tan temung hayu masadhana sarwahayu – siapa yang berbuat segala kebaikan niscaya menemukan kebaikan.
Cobalah simak syair tembang berbahasa Jawa Kuna dari Zaman Majapahit ini :
Prihantemen dharma, dumaranang sarat
Hei kamu, orang-orang yang mengemban tugas sebagai pemimpin
Serage sang sadhu sireke tuutane
Kamu adalah orang pertama yang diteladani
Tan harta
Jangan mikir harta
Tan kama
Jangan mikir kesenangan diri
Pidonya tan yasa
Hidup selalu ingat Tuhannya (tapa)
Ye Sakti Sang Sujana
Demikian watak baik sang bijaksana
Dharmaraksaka
Selalu berteman dengan kebenaran
Itulah contoh ajaran moral untuk seorang pemimpin. Saya diajari tembang itu oleh orang tua saya, orang tua saya diajari orang tuanya, dan seterusnya sehingga entah sudah berapa ratus tahun syair yang berisi ajaran moral itu berkumandang, dengan harapan tidak hanya diingat bagi yang mendengarkan tapi menjadi tuntunan moral setiap pribadi


rhay berkata,
Maret 18, 2008 pada 6:18 am
ayo mas kandange diisi mass
yustiana rezki p berkata,
Mei 10, 2008 pada 5:01 pm
wah wejangan yang bagus pak. btw semangat ^ ^ hehehe
Jusron[at]Faizal.WEB/SKY » Padepokane Wong Jowo berkata,
Juli 9, 2008 pada 6:50 am
[...] ibarat pinang dibelah kampak, jadi sama-sama rusak, memberikan pengertian yang cukup matang tentang padepokan sebagai model pendidikan milik dan asli Nusantara, disandingkan dengan model pendidikan alternatif [...]
widi bagus pangesti berkata,
Juli 8, 2009 pada 4:57 pm
Saya sudah 2bln kmren susah cari arti kata “Padepokan”…
sebenarnya yang di namakan padepokan itu apa ya pak???