Migrasi ke mulyantono.com
Seiring dengan laju dan percepatan peradaban, berbarengan dengan potensi sumberdaya yang juga turut menanjak. Blog saya yang semula ikut gratisan dengan dipandu oleh domain http://bambs.co.nr dan hosting gratis di http://bamton.wordpress.com. Kini semua berubah secara positif di server baru dukungan indonesa.net dengan domain www.mulyantono.com – bambang@mulyantono.com
Perubahan pada BAMb
Ah, Bang Iriyadi, ternyata jeli juga melihat perubahan perilaku seorang teman. Sebenarnya yang pertama kali melihat perubahan itu ‘teman dekat’ saya juga, yaitu ibunya Sekar. Komentarnya tentang perubahan itu diutarakan pada saat makan siang di kantin surau ketika ada pelatihan Anshorman. Dengan tatapan mata yang penuh kekaguman dan terus memperhatikan saya yang sedang asyik makan, ia berkomentar ‘telah menyaksikan saya yang berbeda – tidak seperti yang ia kenal selama ini’.
Ya, mungkin ia agak ’shock’ melihat saya yang memimpin menyanyi di depan kelas untuk ice breaking, padahal di rumah ia tak pernah mendengar saya menyanyi — bahkan di kamar mandi sekali pun.
Saya pun mengakui, selama mengikuti kegiatan fasilitator banyak proses pembelajaran yang sadar atau tidak, membawa perubahan perilaku yang lebih baik ; percaya diri, pengendalian emosi, berlatih berbicara di depan publik, menyanyi, nglawak dan lain sebagainya. Perubahan adalah sebuah keniscayaan. dan Bang Iriyadi juga melihat perubahan pada diri saya, sebagaimana dituliskan di bawah ini :
Guru Berjuta Ayam

Buku tentang bagaimana beternak yang baik dan benar, sudah banyak ditulis oleh staf pengajar/dosen fakultas peternakan dan dokter hewan. Atau ditulis praktisi pabrikan/perusahaan peternakan. Namun kali ini, penulis yang wartawan peternakan mewawancarai seorang peternakyang sukses, managemen-nya terkenal bagus di kalangan perusahaan sapronak maupun peternak yang lain. Maka. inilah buku cara beternak yang benar-benar berangkat dari pengalaman seorang peternakprofesional. Boleh jadi buku ini merupakan perpaduan antara profil seorang peternak dan managemen beternak yang baik.
Pembaca buku ini sangat beruntung karena sang narasumber utama adalah peternak yang juga berprofesi sebagai guru. Naluri berbagi ilmu merasuk dalam pada buku ini, penuh kata-kata bijak dan filosofis, data dan informasi hampir tak ada yang ditutupi. Ini beda dengan karakter peternak atau pengusaha pada umumnya yang menutup rapat ‘rahasia perusahaan’. Bahkan begitu terbukanya, seperti bagaimana formula menghitung insentif karyawan, ditunjukkan, sampai-sampai pihak penerbit ‘ngeri’ dan minta pernyataan tertulis dari pihak narasumber.
Buku yang semula berjudul : ‘Guru Berjuta Ayam’ ini memang mencerminkan kesuksesan dari narasumber-nya. Ayam yang dipelihara semula hanya 500 ekor kini berkembang hingga mendekati 3 juta ekor. Rumah besar, mobil mewah, jelas jauh dari penghasilan seorang guru. Tapi ia tetap menjalani profesi guru dengan baik, bahkan meraih predikat teladan dan diangkat menjadi kepala sekolah sekolah menengah atas (SMA) di Jakarta. Maka, buku ini menarik untuk siapapun yang ingin beternak, dan bagi peternak, inilah rujukan manajemen beternak. Selamat membaca!
PADEPOKAN
Rasanya sudah banyak kritik, evaluasi bahkan keluhan para orang tua terhadap dunia pendidikan yang ditulis maupun ditayangkan pada media massa. Setiap ganti Menteri (Pendidikan) ganti kurikulum adalah hal klasik yang melekat dalam benak masyarakat kita : Ganti metode ujian akhir atau kelulusan, ganti buku, dan sederet gonta-ganti yang lain, yang tidak hanya membingungkan anak didik tapi juga orang tua murid. Baca entri selengkapnya »
Koncuku Uconk
Atas terbitnya blog-ku ini, aku mengucapkan terima kasih kepada temanku Uconk, yang merasa sangat prihatin bahwa aku kerja sebagai wartawan kok hari gini belum punya blog. Selain prihatin, Uconk juga penasaran, manusia macam apakah diriku, dan dia lebih senang mengenal manusia dari tulisannya. makanya dia mendorong terus agar aku segera membuat blog. Sebenarnya, kalau ingin mengenal aku dari tulisanku, ya sudah cukup banyak, aku katakan itu kepada Uconk, tapi ia jawab, susah mas, wong tulisan sampean yang dimuat di majalah sampean hanya soal ayam, mana bisa kulihat sisi manusia dalam tulisan itu, begitu kata Uconk.
Oh, Uconk rupanya lupa, bahwa diri manusia juga ada sisi binatangnya, dan untuk mengetahui sisi manusia yang seutuhnya, sisi binatangnya yag harus dihilangkan. Jadi, kalau Uconk belum tahu sisi manusia dalam tulisan tentang dunia binatang, ya sisi binatang dari Uconk yang harus dihilangkan…………
Terima kasih, Conk!
Mas Bambs nyoba ngisi artikel
ini sekedar percobaan pertama. Baca entri selengkapnya »

